Dalam Bilangan Hari
20:53
- Bismillah…
Sudah bilangan hari, tak terjamah detik yang terlewati. Getar-getar itu masih sering menghampiri. Allah… Betapa hati tunduk pada-Mu, betapa rindu itu meluap-luap membuncah dalam bilik jiwaku. Tertunduk pasrah dalam sujud-sujud panjang kepada-Mu. Betapa aku mencintai hening bersama-Mu, merindui jamuan nikmatnya tangisan hanya berdua dengan-Mu, detik-detik itu begitu mengagumkan untuk sekedar terangkum di dalam diri.
Ketika harap itu terucap, ia selalu bersama dengan rasa ketakutan bahwa diri ini begitu tak layak untuk sekedar meminta kepada-Mu. Mengeja satu persatu bilangan hari yang pernah terlewati, tak lebih dari mencari catatan-catatan buram yang kusam dalam buku harian yang dipenuhi dengan kesalahan. Untuk diri yang terlalu banyak khilaf, untuk jiwa yang terlalu sering kalah dengan nafsu, masihkah pantas kepala mendongak kepada-Mu, sedang amalku tak seberapa untuk menumbuhkan kecintaan yang abadi kepada-Mu ? Untuk setiap waktu yang tak tunduk kepada-Mu, untuk banyaknya kesempatan yang terbuang tanpa mengingat-Mu, masihkah layak aku berkata aku berhak memiliki nikmat-Mu sedang mereka yang kunamakan sebagai jejeran momen untuk berkarya itu terlempar jauh akibat iman yang tertindih ?
Untuk setiap uraian kesalahan dan kekhilafan yang takkan pernah habis bila dihitung satu per satu. Haruskah semua buai perenungan yang tumbuh mengakar dalam malam-malam panjang bersama-Mu mengabdi ? sedang diri ini begitu menyadari, bahwa menjaga amal dalam kerinduan bukanlah hal yang mudah, sungguh sangat menyadari, bahwa menjaga cinta agar tersemai dalam getaran-getaran halus bernama rindu kepada-Mu bukanlah perkara gampang yang dengan mudahnya untuk dipelajari apalagi diamalkan.
Allah..
Untuk sisian diri yang berkabut, aku selalu percaya, bahwa setelah hujan yang hadir karena kealpaan yang menyeluruh, selalu engkau siapkan pelangi untuk menerangi. Juga untuk catatan-catatan kelam yang pernah berprasasti di dalam diri, engkau akan selalu punya cara untuk menuntun mereka yang benar-benar memiliki keinginan yang kuat agar memiliki-Mu, hanya dengan-Mu, hanya pada-Mu.
Allah…
Demi pagi yang lewat tanpa ketundukan bersama Dhuha-Mu, untuk malam yang terlantun tanpa ada tangisan rindu berderai-derai karena mengingat-Mu. Kokohkan jiwa kami agar yang selalu hadir adalah ia yang bernama RINDU, ia yang bernama CINTA, ia yang bernama KETUNDUKAN. semuanya HANYA untuk-MU.. Bukan untuk yang lain.
Allah…
Ketika dunia terasa begitu sempit, ketika amanah terus berlari dan bertambah, tambahkan rasa RINDU kami pada-Mu, tambahkan rasa CINTA kami pada-MU, tambahkan KETUDNUKAN kami pada-MU. Biar cerita yang terlerai kemudian, selalu saja hadir bersama kepingan-kepingan bayangan surga yang dirindui juga diingini. Untuk semua itu Ya Mujiib.. Kami berharap sedikit usaha yang tak seberapa ini, mampu memberi arti..
Taipei, 2 Januari 2011
dakwatuna.com
0 comments