Ironi Ramadhan
22:00
Kaum muslimin yang berbahagia
dimanapun berada.
Bulan ramadhan kini menjelang,
Dan seperti biasa aku melihat
perubahan terjadi dimana-mana dalam berbagai rupa.
Hari-hari awal pastilah masjid penuh
sesak dengan terawihan,
Dan mushala ramai manusia dendangkan
tilawah tadarus al-qur'an.
Akhwat-akhwat mulai tutupi auratnya
dengan hijab.
Artis-artis terhadap apa yang mereka
siarkan mulai bertanggung -jawab.
Bahkan sinetron romeo juliet
berganti jadi safa marwa saat ramadhan.
Film gairah cinta di pending jadi
tasbih cinta agar ma'ruf.
Judul nikmatnya pacaran berganti
jadi indahnya ta'aruf.
Sering aku tersenyum geli melihat
tingkah pola umat islam,
Karena mereka masih berkutat
dengan pemikiran dzalim.
Tapi ramadhan memang ajaib
Ia mampu membuat perubahan seratus
delapan puluh derajat.
Sayangnya setelah ramadhan banyak
yang kembali bejat.
Ini pula yang sebabkan luka tak
terperih bagai disulut api.
Perubahan dimata ternyata belum
sampai keakar hati.
Sekularisme memang menarik umat
kejurang kegelapan yang paling dalam,
Tanpa sisakan secerca sinar yang
bahkan cukup untuk mengurai air mata.
Sekularisme ajarkan bahwaasanya
Allah meninggalkan manusia.
Dan tak lagi menghitung amalan
manusia selain pada ramadhan yang mulia.
Bagaimana bisa seorang muslim
tahankan apa yang halal baginya karena Allah diwaktu siang,
Namun justru berbuka dengan apa yang
Allah haramkan.
Dia menahan makanan,minuman karena
Allah disiang hari,
Namun dia berbuka dengan riba' dan
hukum taghut yang Allah benci.
Ah,,,, sepuluh kali ramadhan telah
berlalu,
Namun usahaku tampaknya belum ada
hasilnya atau apakah ini hanya persangkaanku belaka?
Toh perhitungan Allah tiada sama dengan perhitungan manusia.
Malam yang kita sangka paling gelap
bisa jadi malam yang paling dekat dengan fajar.
Dalam sadar aku hanya mencerca usahaku
yang belum banyak,
Berharap pertolongan Allah walau
kutahu aku belumlah layak.
Umat memang berbahaya,penuh dengan
hal-hal yang tidak terduga.
Dia bisa jadi selimut pelindung dari
dingin malam,
Dan panasnya siang.pun dia menjelma
jadi monster paling menakutkan,
Membenamkan kuku-kuku ucapannya
dalam hatimu terdalam,
Menghujamkan belatih beracun
disetiap bagian tubuhmu yang mampu ia jangkau.
Menunjukkan cahaya bagi mereka
terlalu lama berjalan dalam kegelapan,
Sama saja memberinya rasa
sakit.
Sebagian berjalan dalam gelap ini
lebih suka berada dalam kedzaliman
Ketimbang bermandikan cahaya
ilahi.
Mungkin dalam hati kecil mereka
rindukan terang Allah.
Namun syaitan lakukan tugasnya
dengan baik hingga mereka lebih suka dalam kegelapan.
Mereka lupa bahwa lebih terhormat
mati didalam terang,
Daripada hidup dalam
kegelapan.
Ya.............setidaknya kau
dilihat dan diingat,
Dalam kegelapan mungkin kau nyaman,
Namun tak seorangpun tau
eksistensimu walaupun kau hidup juga ingat namamu.
Aku adalah hamba Allah maha
suci.
Cintaku kepada langit tak berarti
aku tidak menginjak bumi.
Justru langit mengajarkanku dengan
hujan yang mebahasai bumi,
Menumbuhkan benih yang bersirahan
dalam gelap mati.
Cinta kepada Allah selalu hadiahkan
2 hal pada hamba yaitu lidah dan air ata.
Aku selalu berdoa,
Semoga Allah memberikan semua
pengemban dakwah mampu merengkuh kemuliaan ramadhan
Dan karunia yang Allah limpahkan didalamnya.
Karena tiap perkataan mereka,
Bagaikan penyambung nafas dunia.
Menghindarkan umat dari kerusakan sehabisnya,
Menghindarkan umat dari kerusakan sehabisnya,
Mungkin umat bagaikan laron yang tak suka dihalau api,
Mungkin ia akan menggigit tangan
yang berusaha menghalaunya dari kecelakaan.
Namun bukankah itu kenikmatan
dakwah?
Yang juga dirasakan junjungan kita
Nabi Besar SAW penghulu segala kebaikan.
Bilakah pantas seorang manusia
berkelu kesah terhadap dakwah
Manakala tauladan kita nabi Muhammad
SAW bersemangat menjalankannya.
Benar,
Logam akan berkarat seiring waktu,
Namun emas tetaplah emas.
Waktu adalah satu-satunya
pemisah
Antara keistiqomahan dan yang
ditinggalkan.

0 comments