Happy Father's Day....
03:13
Happy Father's Day,
Ya... aku hanya bisa mengucapkan melalui Doa dan tulisan ku ini.
Aku hanya ingin mengenangnya, tak berarti aku khilaf berlebih untuk meratapi kepergiannya. :)
Ini takdir yang aku dapatkan, ini jalan yang telah ku lalui, dan Allah memberi tahuku melalui artikel yang ku baca melalui Dakwatuna hari ini, di hari Father's Day ini. Memang ini bukan lah yang diajarkan oleh agamaku, namun aku hanya teringatkan dan ingin menuliskan sesuatu yang selama ini terus menjadi harapanku, agar jika aku lupa, tulisan ini bisa jadi pengingatku. ^_^"
Kepergianmu, ayahku, pada 4 April 2013 lalu, bukan sesuatu yang pernah terbayangkan dalam benak dan fikiranku, seolah ini hanya mimpi, seperti yang ada di film-film dan cerita-cerita saat aku muhasabah dalam kegiatan-kegiatan Rohani Islam. Ya... aku tahu bahwa ini adalah Takdir-Nya yang tak pernah diketahui oleh hamba-hambaNya. Kepergiaan in adalah kepergian terjauh pertama yang aku rasakan. Terjauh dan tak terduga, terbesit akan satu tanda akan ditinggalkan pun tidak ada, apa memang diri ini yang tidak peka dengan apa yang terjadi di sekitar. Ya Rabb... hamba lemah akan setiap yang ada di hati-hati manusia, karena ini semua hanya ada pada kuasaMu.
Ayahku, bukanlah seorang yang banyak bicara, dia tak pernah memaksa lebih anak-anaknya diluar kemampuan. Mungkin ini satu kelemahan, yang tidak menjadikan anak-anaknya mandiri, tidak menjadikan anak-anaknya memiliki mimpi lebih, karena mereka tahu bahwa ayahnya akan terus menuruti semua permintaan anak-anaknya dengan dasar kasih sayangnya, beda dengan ibu, yang selalu menuntut, dan mengingatkan. Mungkin ini bagian dari karakter masing-masing gender, laki-laki dengan diam dan fisiknya, dan perempuan dengan kata-katanya.
Pesan yang ku ingat darinya, di kala sore itu kurang lebih sebulan sebelum kepergiannya.
Ayah :"Kuliah ya nok, biar bisa jadi orang"
Aku :"Loh.. emang sekarang belum jadi orang toh?".
Nakalnya anak ini, pesan tersirat terakhir darinya saja masih di bantah.. apalagi pesan tersuratnya.
yah,, itu adalah jawabanku, bahwa aku memang tak pernah terpikirkan akan kata kepergian "Jauh". Saat-saat ingatan seperti ini selalu hadir saja, tetes air mata ini sedikit keluar. Sedikit dan langsung mengusapnya, seperti orang mengusap matanya karena kelilipan.. :).
Maaf ku ucapkan, ayah, saat-saat terakhirmu tak ada yang bisa aku berikan lebih, Sakitmu saja masih aku jadikan candaan dan paksaan.
Kejadian-kejadian itu pun, tak sedikit menghadirkan pesan bahwa kau akan pergi meninggalkan.
Bermula saat dimana engkau pulang ke rumah dalam keadaan menggigil, berkeringat deras, dan kau langsung tiduran, meminta untuk di kerokin (maaf, gtw bahasa bagusnya), dan akupun hanya bertanya, " Bapak kenapa sih?, masuk angin? abis ngapain aja dirumah sana?", dan dia pun hanya diam, dan terus menggigil, entah menggigil kedinginan atau kesakitan saat itu.
Saat dimana engkau meminta uang jajan, layaknya anak kecil, pada waktu aku menerima pendapatan bulanan. ya kau memintanya, karena aku tak pernah memberimu, hanya ibu yang sering aku beri saat itu, karena ku rasa, seorang ayah rasanya tak pantas menerima uang dari anak perempuannya, karena aku adalah tanggung jawabmu
Aku pun langsung memberimu saat itu, terlihat seperti anak kecil memang, dengan balutan sarungmu dan posisi duduk lemahmu dikasur saat itu,
dan kau pun tanya "Buat bapak mana?", aku, akupun hanya bisa terherankan "Loh, bapakkan lagi sakit, uangnya buat apa nanti?, jangan buat yang lain yah, buat beli buah aja..." dengan tangan langsung ter-ulurkan diselipi uang pun tanggap kau terima.
Semampu-mampunya orang tua, mereka tak pernah meminta sebagian atau semua pendapatanmu langsung, namun sejujurnya mereka tak pernah merendahkan diri jika menerima itu darimu, karena hayal adalah sebagai penjagaan untukmu, kedepannya, yang tak pernah kau tau bagaimana takdirNya akan semua jalan Rizkimu. Ini pesan yang aku dapatkan.
Berbakti kepada orang tualah ladang amal terbaik, saat ini baktiku padamu ayah hanya dengan doa-doa ku, dan kesolehan yang aku miliki, Insya Allah, semoga ini yang akan jadi bekalmu nanti. Bekal karena engkau tak pernah melarangku untuk aktif dalam segala kegiatan. Harapan yang tak pernah pudar yang aku ingin berikan padamu adalah dengan menjadi anak shaliha, yang mampu memakaikan mahkota terindah untukmu dan ibu di tempat yang kekal nanti, hanya itu. ya hanya itu, dam juga aku akan selalu menjaga yang akan menjadi bidadarimu nanti, ibu, ya ibu, yang akan aku terus tuntun untuk selalu dekat dan berada di Jalan-Nya.
Salam rindu, dari putri terkecilmu.
Putri yang selalu mengelak untuk engkau peluk dan cium, karena tak ingin merasakan tekstur dari kumismu yang lebat.
Love you.
Happy father's Day..
Ya... aku hanya bisa mengucapkan melalui Doa dan tulisan ku ini.
Aku hanya ingin mengenangnya, tak berarti aku khilaf berlebih untuk meratapi kepergiannya. :)
Ini takdir yang aku dapatkan, ini jalan yang telah ku lalui, dan Allah memberi tahuku melalui artikel yang ku baca melalui Dakwatuna hari ini, di hari Father's Day ini. Memang ini bukan lah yang diajarkan oleh agamaku, namun aku hanya teringatkan dan ingin menuliskan sesuatu yang selama ini terus menjadi harapanku, agar jika aku lupa, tulisan ini bisa jadi pengingatku. ^_^"
Kepergianmu, ayahku, pada 4 April 2013 lalu, bukan sesuatu yang pernah terbayangkan dalam benak dan fikiranku, seolah ini hanya mimpi, seperti yang ada di film-film dan cerita-cerita saat aku muhasabah dalam kegiatan-kegiatan Rohani Islam. Ya... aku tahu bahwa ini adalah Takdir-Nya yang tak pernah diketahui oleh hamba-hambaNya. Kepergiaan in adalah kepergian terjauh pertama yang aku rasakan. Terjauh dan tak terduga, terbesit akan satu tanda akan ditinggalkan pun tidak ada, apa memang diri ini yang tidak peka dengan apa yang terjadi di sekitar. Ya Rabb... hamba lemah akan setiap yang ada di hati-hati manusia, karena ini semua hanya ada pada kuasaMu.
Ayahku, bukanlah seorang yang banyak bicara, dia tak pernah memaksa lebih anak-anaknya diluar kemampuan. Mungkin ini satu kelemahan, yang tidak menjadikan anak-anaknya mandiri, tidak menjadikan anak-anaknya memiliki mimpi lebih, karena mereka tahu bahwa ayahnya akan terus menuruti semua permintaan anak-anaknya dengan dasar kasih sayangnya, beda dengan ibu, yang selalu menuntut, dan mengingatkan. Mungkin ini bagian dari karakter masing-masing gender, laki-laki dengan diam dan fisiknya, dan perempuan dengan kata-katanya.
Pesan yang ku ingat darinya, di kala sore itu kurang lebih sebulan sebelum kepergiannya.
Ayah :"Kuliah ya nok, biar bisa jadi orang"
Aku :"Loh.. emang sekarang belum jadi orang toh?".
Nakalnya anak ini, pesan tersirat terakhir darinya saja masih di bantah.. apalagi pesan tersuratnya.
yah,, itu adalah jawabanku, bahwa aku memang tak pernah terpikirkan akan kata kepergian "Jauh". Saat-saat ingatan seperti ini selalu hadir saja, tetes air mata ini sedikit keluar. Sedikit dan langsung mengusapnya, seperti orang mengusap matanya karena kelilipan.. :).
Maaf ku ucapkan, ayah, saat-saat terakhirmu tak ada yang bisa aku berikan lebih, Sakitmu saja masih aku jadikan candaan dan paksaan.
Kejadian-kejadian itu pun, tak sedikit menghadirkan pesan bahwa kau akan pergi meninggalkan.
Bermula saat dimana engkau pulang ke rumah dalam keadaan menggigil, berkeringat deras, dan kau langsung tiduran, meminta untuk di kerokin (maaf, gtw bahasa bagusnya), dan akupun hanya bertanya, " Bapak kenapa sih?, masuk angin? abis ngapain aja dirumah sana?", dan dia pun hanya diam, dan terus menggigil, entah menggigil kedinginan atau kesakitan saat itu.
Saat dimana engkau meminta uang jajan, layaknya anak kecil, pada waktu aku menerima pendapatan bulanan. ya kau memintanya, karena aku tak pernah memberimu, hanya ibu yang sering aku beri saat itu, karena ku rasa, seorang ayah rasanya tak pantas menerima uang dari anak perempuannya, karena aku adalah tanggung jawabmu
Aku pun langsung memberimu saat itu, terlihat seperti anak kecil memang, dengan balutan sarungmu dan posisi duduk lemahmu dikasur saat itu,
dan kau pun tanya "Buat bapak mana?", aku, akupun hanya bisa terherankan "Loh, bapakkan lagi sakit, uangnya buat apa nanti?, jangan buat yang lain yah, buat beli buah aja..." dengan tangan langsung ter-ulurkan diselipi uang pun tanggap kau terima.
Semampu-mampunya orang tua, mereka tak pernah meminta sebagian atau semua pendapatanmu langsung, namun sejujurnya mereka tak pernah merendahkan diri jika menerima itu darimu, karena hayal adalah sebagai penjagaan untukmu, kedepannya, yang tak pernah kau tau bagaimana takdirNya akan semua jalan Rizkimu. Ini pesan yang aku dapatkan.
Berbakti kepada orang tualah ladang amal terbaik, saat ini baktiku padamu ayah hanya dengan doa-doa ku, dan kesolehan yang aku miliki, Insya Allah, semoga ini yang akan jadi bekalmu nanti. Bekal karena engkau tak pernah melarangku untuk aktif dalam segala kegiatan. Harapan yang tak pernah pudar yang aku ingin berikan padamu adalah dengan menjadi anak shaliha, yang mampu memakaikan mahkota terindah untukmu dan ibu di tempat yang kekal nanti, hanya itu. ya hanya itu, dam juga aku akan selalu menjaga yang akan menjadi bidadarimu nanti, ibu, ya ibu, yang akan aku terus tuntun untuk selalu dekat dan berada di Jalan-Nya.
Salam rindu, dari putri terkecilmu.
Putri yang selalu mengelak untuk engkau peluk dan cium, karena tak ingin merasakan tekstur dari kumismu yang lebat.
Love you.
Happy father's Day..

0 comments